Responsive Advertisement

Update Hari Ini

Sabtu, 20 Mei 2023

Netorare Manga no Kuzu Otoko ni Tensei Shita Hazu ga Heroine ga Yottekuru Ken Chapter 9 Bahasa Indonesia

 


Chapter 9 - Melihat Sifat Aslinya 


“…Haaah.”


 


Pagi itu, Shizuna memulai paginya dengan muram, tak perlu dikatakan, penyebabnya ialah saat dia menutup telponn dengan Ryuichi kemarin. Itu adalah panggilan telepon pertama mereka sejak Shizuna bertukar kontak dengan Ryuichi.

 


Namun, saat panggilan itu akan berakhir, suara seorang wanita terdengar... Suara itu masih tertinggal di benak Shizuna yang membuat hatinya tidak nyaman.


 


“…Haaah.”


 


Saat dia menghela nafas kesekian kalinya hari itu, pertanyaan tentang bagaimana Ryuichi dan wanita itu menghabiskan malam terus membebani pikirannya. Dia tidak tahu mengapa hal itu sangat mengganggunya, bukankah dia sudah memberitahunya sejak awal: bahwa dia memang memiliki hubungan dengan banyak wanita.


 


“… Dadaku juga sedikit sesak saat itu.”


 


Bukan karena Ryuichi membenarkan rumor itu; saat itu, karena dia tidak pernah melihatnya secara langsung, jadi dia tidak terlalu mempedulikannya. Tapi kejadian ini, terbukti dari reaksinya, benar-benar membebani pikiran Shizuna.


 


“…Dia tadi memanggilnya 'Chisa', bukan? Aku ingin tahu apakah wanita itu masih disukainya?.”


 


Tentu saja, memikirkannya sendirian tidak akan memberinya jawaban, tapi melamun seperti apa yang dia lakukan saat ini juga bukan ide yang bagus, dia sampai gagal memperhatikan seseorang yang mendekat di belakangnya.


 


"Shizuna!"


“Kya?!”


 


Dia mendengar suara akrab memanggilnya dari belakang sebelum dia tiba-tiba dipeluk oleh nya. Pelukan itu ringan, tapi cukup tiba-tiba sampai mengejutkan Shizuna.


 


"Sohei-kun?"


“Ya, Selamat pagi, Shizuna.”


"…Selamat pagi."


 


Orang yang menempel di punggungnya adalah Sohei. Sembari menengok kebelakang, Shizuna mengingat kembali bagaimana mereka dulu sering melakukan ini. Tentu saja, mereka tidak melakukannya lagi setelah menjadi siswa sekolah menengah, tapi melihat Sohei yang sekarang membuatnya berpikir bahwa dia tidak berubah sejak mereka kecil dulu.


 


“Kau sepertinya sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Apa kau… tidak menyukainya?”


“…Bukan begitu, Aku tidak membencinya. Aku hanya berpikir itu memalukan.”


 


Shizuna berbohong padanya. Walaupun dia mengatakan dia tidak membencinya, tapi kenyataannya, dia rasa itu sedikit menjijikan. Mengesampingkan Dia tidak menyadarinya lebih awal karena sedang terganggu oleh pikirannya, apa yang akan dilakukan seorang wanita jika tiba tiba dipeluk pria dari belakang?


 


“… Sebenarnya, ya, aku tidak menyukainya. Sohei-kun, kita siswa SMA sekarang, bukan? Selain itu, kita juga memiliki perbedaan gender yang harus dipertimbangkan, jadi kita tidak boleh melakukan hal semacam ini lagi.”


"…Oke."


 


Pada akhirnya, Shizuna berubah pikiran dan memutuskan untuk angkat bicara, menegurnya dengan tegas. Meski nadanya tidak kasar, Sohei tampak cukup kaget mendengar teman masa kecilnya Shizuna mengatakan dia tidak menyukainya.


 


"Shizuna, kau ..."


"Apa?"


“…Sebenarnya, sudahlah. Sampai jumpa di sekolah.”


 


Meninggalkan beberapa kata itu, Sohei pergi dan berlari di depannya. Mungkin aku sedikit berlebihan, pikir Shizuna. Tapi kemudian, dia berpikir kembali ke masa lalu di mana kadang-kadang, dia juga bergantung pada Sohei. Mereka selalu bersama sejak lama, dan bagi Shizuna, Sohei adalah teman masa kecilnya yang berharga, jadi dia berharap itu akan selalu sama sekarang dan seterusnya.


 


“Aku masih ingat bagaimana kita dulu mengatakan bahwa kita akan menikah suatu hari nanti. Itu cukup nostalgia. Tapi pada akhirnya, itu hanyalah janji yang dibuat oleh anak-anak. Ku harap di masa depan, kita dapat menemukan orang yang penting untuk masing masing dari kita.”


 


Ketika Shizuna memikirkan siapa orang yang penting baginya, Dia adalah orang pertama yang muncul di benaknya. Ya, dia, orang yang menyelamatkan Shizuna dengan tubuhnya yang besar dan kuat—


 


“Oh, itu kauu, Rindo? Apa yang kau lakukan di sini?”


“… Fuah ?!”


 


Pemilik suara yang menghentikan Shizuna yang sedang dalam fantasinya, dalam arti tertentu, adalah pemilik suara yang ingin dia dengar, tapi jika seseorang yang ingin dia dengar itu bertemu dengannya sekarang, dia akan merasa terganggu.


 


"S-Shishido-kun?"


"Yo."


 


Shizuna melihat Ryuichi, itu terlihat sama seperti biasanya, tidak seperti dirinya, yang merasa terganggu dengan apa yang terjadi tadi malam. Shizuna tidak tau kenapa dia menjadi seperti ini, tapi dia sangat ingin melampiaskan nya, karena itu dia memukul dada Ryuichi berulang kali.


 


"Aw.. Hei,hey… Ada apa dengan mu?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin melakukan ini… Muuu.”


 


Dia segera berhenti memukulnya, tapi hatinya tetap tidak puas. Terlihat dari pipinya yang menggembung, Ryuichi menghela nafas sebelum lanjut berjalan. Shizuna menyamai langkahnya agar bisa berjalan di sampingnya.


 


"Mau bareng?"


"Tentu. Tapi sepertinya kita harus berpisah saat di tengah jalan. Kau pasti tidak akan keberatan bukan?"


"Ya."


 


Orang mungkin berpikir bahwa pergi ke sekolah bersama tidak akan menjadi masalah yang besar. Namun, sekolah menengah pada dasarnya adalah masa yang aktif bagi remaja, jadi hanya karena melihat seorang anak laki-laki dan perempuan berjalan bersama, mereka akan mulai membuat spekulasi tak berdasar tentang mereka.


 


“… Hei, Shishido-kun.”


"Apa?"


 


Shizuna menoleh, melihat ke arah Ryuichi yang berjalan tepat di sebelahnya, sementara dia menatap ke depan tanpa melihat ke arah Shizuna. Berbeda dengan Shizuna yang mengenakan seragamnya dengan rapi dan serius, Ryuichi biasanya mengenakan seragamnya secara acak-acakan dengan membiarkan kancing atasnya terbuka.


 


…Otot itu terlihat luar biasa ♪


 


Itu secara tidak sengaja masuk ke dalam pikiran Shizuna. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali berusaha untuk menghilangkan pikiran itu, Shizuna dengan berani langsung bertanya tentang kejadian kemarin.


 


“Kemarin, Kenapa kau tiba tiba memutuskan Telponnya…?”


"Oh itu. Itu karena Chisa… seorang mahasiswa datang ke rumahku. Dia dari sebuah pesta dan datang kerumah ku sembari mabuk, ah sial, itu membuat tempatku bau alkohol.”


"Jadi begitu."


 


Apa dia pacarmu? Shizuna dengan polos bertanya-tanya.


 


"Pacarku?"


“Tidak. Kita belum saling mengenal selama itu, hanya bertemu sesekali.”


"…Begitukah."


 


Shizuna merasa lega ketika mendengar bahwa dia bukan pacarnya. Namun, perlu beberapa saat sebelum dia menyadari apa arti kelegaannya ini. Sementara itu, Ryuichi melanjutkan.


 


“Yah, dia bukan pacarku… tapi kita cukup dekat sampai melakukan hal-hal semacam itu.”


“……”

 


Shizuna tidak begitu kekanak-kanakan sampai tidak tahu apa yang dia maksud dari "hal-hal semacam itu". Membayangkan hal itu, daripada rasa malu Shizuna merasakan kesemutan di hatinya. Dia melirik Ryuichi, yang masih sama seperti biasanya, dia merasa seperti orang bodoh karena terlalu memikirkan hal ini.


 


“Jadi, apa itu berarti…”


 


Kata-kata berikutnya adalah kata kata yang tidak akan pernah diucapkan Shizuna jika dia tenang. Tapi kata-kata itu terhenti karena Ryuichi dengan tiba tiba mengulurkan tangan ke arahnya.


 


“Rindo.”


"Apa-"


 


Ryuichi meraih lengan Shizuna dan dengan kuat membawanya ke pelukannya. Wajahnya menyentuh dadanya, dia bisa langsung merasakan betapa kerasnya dada dan perutnya. Membuat Pipinya tiba-tiba memerah.


 


“S-Shishido-kun…?”


“Jangan melamun saat Kau sedang berjalan. Kau hampir saja menabraknya, kau tahu?”


"Hah?"


 


Shizuna mengarahkan matanya ke arah yang dilihat Ryuichi dan melihat seorang lelaki tua berjalan dengan tongkat. Jika Ryuichi tidak melakukan apa yang dia lakukan tadi, dia mungkin akan menabraknya, dan itu akan menjadi masalah jika dia terjatuh. Alasan Ryuichi memeluk Shizuna saat ini agar Dia tidak menabrak lelaki tua itu.


 


“… Terima kasih, Shishido-kun.”


“Tidak perlu berterima kasih padaku. Karena tidak terjadi apa.”


 


Dia menepuk kepalanya dengan lembut. Shizuna merasa diperlakukan seperti anak kecil, tapi entah kenapa dia tidak bisa menyuruhnya berhenti. Nyatanya, dia bahkan ingin Ryuichi berbuat lebih banyak, belum lagi fakta bahwa dia merasa sangat gembira saat dia memeluknya tadi. Shizuna merasakan kehangatan dan kegembiraan yang tak terbayangkan dari Ryuichi, yang tidak dia rasakan saat bersama Sohei.


 


"Baiklah, ayo pergi."


"Oke."


 


Ryuichi mulai berjalan lagi, dan Shizuna mengikuti di sampingnya. Segera, dia dan Ryuichi harus mengambil jalan berbeda dan pergi ke sekolah secara terpisah. Jika saja kita berjalan lebih lama... Shizuna berharap dalam hatinya.


 


Seharusnya, saat ini Shizuna dan Sohei akan bersama sebagai pasangan. Begitulah di cerita aslinya, namun satu perubahan saja telah menyebabkan banyak hal menyimpang dari alurnya.


 


Namun, perubahan itu sama sekali tidak disebabkan oleh niat buruk. Masa depan yang dibawa Ryuichi, yang telah mendapatkan kembali i

ngatannya, itu murni disebabkan oleh Shizuna. Dia tidak sedang diancam, ataupun dipaksa agar memiliki perasaan padanya. Dia dengan murni benar-benar menatap Ryuichi.


 


Dia melihat sifat asli Ryuichi yang berubah, tidak lebih dan tidak kurang.





Chapter Selanjutnya 


Daftar Chapter


Chapter Sebelumnya 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments