Responsive Advertisement

Update Hari Ini

Jumat, 19 Mei 2023

Netorare Manga no Kuzu Otoko ni Tensei Shita Hazu ga Heroine ga Yottekuru Ken Chapter 8 Bahasa Indonesia

 



Chapter 8 - Bertukar Kontak


"…Hmm."


 


Setelah sekolah berakhir, Ryuichi kembali ke rumah dan menatap layar ponselnya. Melihat nama baru ditambahkan ke kontaknya, Rindo Shizuna, itu membuat Ryuichi bertanya-tanya bagaimana ini bisa terjadi.


 


"Kontak informasi?"


"Ya. Aku ingin bertukar kontak dengan Mu, Shishido-kun… Apa Kau tidak mau?


 


Ryuichi tidak terlalu keberatan; dia hanya tidak berharap Shizuna akan meminta hal ini padanya. Ya, dia pernah datang ke tempatnya sekali, tapi Ryuichi ragu, apa itu saja cukup untuk membuat mereka sedekat ini.


 


“… Tapi apa yang bisa kita bicarakan…?”


 


Tiba-tiba, ponsel Ryuichi berdering. Itu adalah panggilan, dan di layar panggilan itu tertulis "Rindo Shizuna"..


 


“……”


 


Siapa yang mengira dia akan menelepon tepat saat Ryuichi memikirkannya? Dia merenung sejenak apakah dia harus menjawabnya atau tidak, tapi akhirnya, dia memutuskan untuk menjawab teleponnya, karena jika tidak, siapa yang tahu apa yang akan dikatakannya di sekolah besok.


 


"Halo?"


"Oh! Halo, Shishido-kun? …Aku benar-benar berpikir kau tidak akan mengangkatnya.”


"Kenapa?"


“… Hanya firasat.”


 


Aku menjawab dengan kurang percaya diri sembari tersenyum kecut mengatakan bahwa Firasat nya tidak sepenuhnya salah. Ryuichi, bagaimanapun, tidak tahu apa yang harus dia bicarakan di telepon, jadi Shizuna, mungkin sudah mengantisipasi hal itu, dan mulai membicarakan sesuatu.


 


"Apa kau sudah makan, Shishido-kun?"


"Ya…"


"Apa yang kau makan?"


“……”


 


Sebenarnya, pada hari Shizuna datang memasak untuk Ryuichi, dia menyuruhnya setidaknya mencoba sedikit memasak demi kesehatannya. Tentu saja, Ryuichi telah membuat cup ramen untuk makan malam hari ini. Shizuna sepertinya sudah menebak hal ini dan mendesah.


 

“…Shishido-kun.”


“Err, aku hanya tidak punya waktu, mengerti?”


“……”


 

Sebenarnya, dia berbohong, dia hanya tidak ingin mengatakan bahwa itu menyebalkan. Tentu saja, Shizuna tahu itu. Alasan mengapa dia tidak mendorong masalah ini terlalu agresif karena dia takut Ryuichi akan menganggapnya menyebalkan karena memaksanya melakukan begitu banyak hal.


 


“…Kau harus memiliki pola makan yang seimbang, oke?”


"Baiklah. Ya ampun, apa kau ibuku?


“Oh, apakah ibumu seperti ini, Shishido-kun?”


"Tidak terlalu. Aku hanya mengatakan itu secara kiasan. Aku dan ibuku memiliki hubungan yang jauh… Sebenarnya, Tidak, lupakan aku mengatakan itu.”


 


Dia dengan paksa mengakhiri topik itu. Shizuna tampaknya telah menebak perasaannya tentang masalah itu dan tidak memberikan pertanyaan lain, yang membuat Ryuichi berterima kasih. Hari ini, Pada dasarnya Ryuichi menghabiskan waktunya sendirian jika tidak ada orang di sekitarnya. Sejak dia mendapatkan kembali ingatannya, dia menghentikan kebiasaannya berkeliaran di kota pada malam hari.


 


Itulah mengapa sebuah pikiran kecil muncul di benaknya. Rasanya sangat hangat saat Chisa dan Shizuna ada di sini.


 


"Kau tahu…"


"Ya?"


“… Cup ramen rasanya sangat hambar jika dibandingkan dengan nikujaga yang kau buat hari itu.”


“……”


 


Ryuichi tidak tahu bagaimana Shizuna bereaksi terhadap kata-katanya, tapi dia merasa Shizuna senang karena dia bisa mendengar suara kepakan di ujung telepon.


 


“Baiklah, lain kali aku akan membuatkan lebih banyak untukmu. Tentu saja, nikujaga bukan satu-satunya yang bisa ku buat; Aku cukup percaya diri dengan steak Hamburg yang ku buat, Kau tahu?


“Steak Hamburg. Aku belum pernah makan sesuatu seperti kecuali dari restoran.”


“Maka kau bisa menantikan itu saat nanti aku berkunjung lagi… oke?”


 


Ryuichi bisa mendengar antisipasi dalam suara Shizuna saat dia mengatakannya, "Tentu, jika ada kesempatan." Suara Shizuna terdengar senang, dia sangat bersemangat sehingga dia bergerak dan membuat rencana sendiri kapan dia ingin mengunjunginya.


 


"Hei, aku bilang saat ada kesempatan, oke?"


"Baiklah! ♪”


 


Dia pasti tidak mendengarkan. Ryuichi menghela napas. Meski begitu, memikirkan masakan lezat yang dibuat Shizuna membuatnya berharap. Lagi pula, rebusan daging dan kentang saja sudah begitu enak hingga bisa terlihat jelas dari ekspresinya.




“… Yah, aku menantikannya.”


"Ya! ♪”




Yah, setidaknya itulah yang bisa dikatakan Ryuichi tentang hal ini. Mereka kemudian menutup telponnya setelah perbincangan singkat. Namun, hanya beberapa detik sebelum panggilan berakhir…


 


“Ryuichi? Aku masuk~!”


“… Chisa? Maaf Rindo, sampai jumpa besok di sekolah.”


"T-Tunggu sebentar-"


 


Bip, bip, bip. Panggilan telah terputus.


 


"Oh, apakah kau sedang menelepon seseorang?"


“Ya, Begitulah. Ngomong-ngomong, apa kau bisa mengatakan sesuatu sebelum menerobos masuk?.”


 


Ryuichi dengan santai melemparkan ponselnya ke bawah bantal sementara Chisa melambaikan tangannya dan berkata, "Oh, Ayolah, jangan seperti itu." Dia duduk di sampingnya dan mulai menempel padanya. Ryuichi bisa langsung mencium aroma alkohol darinya.


 


"Seriusan, berapa banyak yang kau minum ..."


"Hmmm? Hanya beberapa gelas… Aku baru saja pulang dari sebuah pesta, Tapi orang-orang itu terlalu berisik bilang ingin mengantarku pulang!


"Lalu?, kenapa kau tidak pergi dengan salah satu dari mereka?"


"Tidak. Kenapa aku harus pulang dengan para pecundang itu?”


“… Jangan marah padaku.”


 


Aku mengalihkan pandanganku dari wajah cemberut Chisa. Dia sepertinya mendengar sebagian suara Chisa saat telepon ditutup. Ryuichi khawatir karena nada suaranya terdengar panik, tapi dia memutuskan untuk mengesampingkannya untuk saat ini.


 


“Lihatlah, tempat ini menjadi sangat bersih sekarang? Aku yakin kau tidak melakukan ini sendiri.


"Itu bisa dimengerti."


"Siapa itu? Aku tahu… Itu pasti seorang wanita, ya?”


"Ya, kau benar."


 


Dia tidak merasa itu adalah sesuatu yang harus disembunyikan, jadi dia menjawabnya dengan jujur. Chisa tidak memiliki reaksi tertentu, tapi dia terlihat agak kaget karena dia membawa pulang gadis lain.


 


"Siapa yang kau jebak kali ini?"


“kanapa kau membuatku terdengar seperti seorang kriminal atau semacamnya? Dia hanya teman sekelas.”


"Wow, jadi kau tidur dengan teman sekelasmu!"


“… Apa kau gila!”


“Ahahaha! Maaf maaf. ♪”


 


Meskipun seorang wanita muda, Chisa berbicara tentang seks dan sejenisnya dengan begitu bebas. Kesadarannya benar benar kurang. Tentu saja, sebagian besar karena orang yang berhubungan dengan Ryuichi memang seperti itu, jadi tidak ada gunanya dia memikirkannya.


 


“Hei, Ryuichi. Aku akan menginap di sini malam ini?”


"Terserah."


"Hore. Aku suka bagian darimu yang tidak pernah mengatakan tidak.


"Ya, ya, tentu."


“… Tapi, banyak bagian lain yang tidak imut tentangmu.”


 


Sebagai seorang pria Ryuichi akan merasa terhina jika disebut 'imut'. Setelah mendapat izin untuk menginap, Chisa segera merebahkan diri di tempat tidur dan mulai memainkan ponselnya, mungkin mengirim pesan kepada temannya.


 


“… Sial, aku bisa melihat seluruh celana dalamnya.”


 


Chisa terus bermain dengan ponselnya dalam diam, tidak mempedulikan rok pendeknya yang terbuka. Ketika Ryuichi memberitahunya, dia hanya tersenyum sembari meliriknya dan tidak berusaha memperbaikinya. Sebagai seorang wanita, Chisa memiliki tubuh yang yang sempurna. Dia memiliki citra yang membuat banyak lelaki jatuh cinta di universitasnya.


 


"Aku bertanya apa yang akan dikatakan para laki-laki itu jika mereka melihatmu saat ini."


“Aku tidak akan menunjukkan ini kepada mereka. Aku tahu aku sering bermain-main, tapi aku sangat berhati hati dalam hal kepada siapa mempercayakan tubuhku.”


"Oh, benarkah? Ini pertama kalinya aku mendengar tentang itu.”


“Itu karena aku tidak pernah memberitahumu. Asal kau tahu saja, kau satu-satunya orang yang berhubungan denganku akhir-akhir ini.”


 


Mendengar itu tidak terlalu membuat Ryuichi senang. Dia tidak terlalu tertarik dengan hubungan seperti apa yang Chisa miliki dengan orang lain, ditambah lagi, terlepas dari apakah dia mendapat kembali ingatannya atau tidak, hubungan mereka hanya sebatas itu (teman seks).




"Mau mandi?, Sendiri tentunya."


"Ya, aku pikir aku akan mandi."


"Kalau begitu lakukan sebelum kau tidur."


"Okeeey~."



 


Chisa dengan malas bangun, pergi ke lemari, mengambil baju ganti, dan menuju kamar mandi.


 


Setelah beberapa saat, Chisa kembali. Dia spertinya tidak berendam dan hanya menggunakan shower. Setelah mandi, dia tampak lebih cantik sekarang, tapi kelopak matanya masih terlihat berat, mungkin karena alkohol yang dia minum.


 


"Yah, sekarang sudah larut, jadi aku akan tidur."


"Tidak mau melakukannya?"


"Tidak untuk hari ini."


"Baiklah. Jujur saja, aku juga cukup mengantuk saat ini.”


 


Karena Ryuichi tinggal sendirian, yang dia miliki hanyalah satu futon, jadi, secara otomatis mereka berdua harus tidur di futon yang sama.


 


“Tidur di futon sesekali spertinya cukup nyaman.”


"Tapi tidak sebaik tempat tidur."


"Setuju ♪”


 


Meski begitu, seprainya cukup empuk, jadi cukup nyaman hingga membuat mereka langsung tertidur. Ekspresi Chisa terlihat seperti orang dewasa saat dia menggunakan lengan Ryuichi sebagai bantal, tapi sikapnya yang mencondongkan tubuhnya ke dekat Ryuichi untuk mencari kehangatan tubuhnya memberinya kesan bahwa mereka seumuran.


 


“Hei, Ryuichi. Apa kau memiliki masalah?”


"TIDAK?"


“… Tidak ada yang membuatmu sampai stres?”


"Apa aku terlihat stres?"


“Tidak… Aku hanya mengkhawatirkanmu karena kau lebih muda dariku.”


"Baiklah aku mengerti, besok kau kuliah, kan? Aku juga punya sekolah yang harus ku hadiri, jadi cukup sampai di sana.”


“Oke~. Selamat malam, Ryuichi.”


 


Chisa langsung tertidur. Ryuichi bergumam masam pada Chisa yang sedang tidur seperti biasanya.

 


"Yah, bukan berarti lelaki atau perempuan tua itu akan peduli tentang apa pun yang terjadi padaku."


 


Dan dengan itu, Ryuichi juga menutup matanya.


 


 


“…Itu…itu tadi suara wanita kan?”


 


Di tempat lain, Shizuna sedang memikirkan Ryuichi dengan perasaan muram.


 


Chapter Selanjutnya


Daftar Chapter


Chapter Sebelumnya 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments